Custom Search

Tanggung Jawab

Tanggung Jawab itu merawat dan menjaga

Tanggung Jawab itu tidak mengkhianati
Tanggung Jawab itu tidaklah mengingkari
Tanggung Jawab itu bukanlah lari dari permasalahan
Tanggung Jawab itu menjalankan KOMITMEN
Tanggung Jawab itu bukan hanya bisa berkata "YA" tapi "TIDAK DILAKSANAKAN " dan "TIDAK DIPATUHI"
Tanggung Jawab itu karena "adanya rasa memiliki"

Tanggung Jawab itu bukanlah PENIPUAN tapi keJUJURan
KeJUJURan mengakui keSALAHan
Berani JUJUR atas perbuatan yang SALAH
(Note: bukan untuk anak-anak yang belum tahu kebenaran dan kesalahan)
Tanggung Jawab itu bukan merusak tapi memperbaiki




Ikhlas Yang Hakiki

Allah Swt berfirman dalam hadits Qudsi: “Ikhlas itu adalah salah satu rahasia KU, yang AKU titipkan dalam hati seorang hamba-KU yang aku cintai…”

Ikhlas itu berarti sholat, ibadah, hidup dan matinya hanya bagi Allah (Lillahi Ta’ala), tempatnya dalam hati, bukan di mulut. Jadi kalau orang menyatakan dirinya ikhlas, itu tandanya tidak ikhlas.
Ikhlas itu dari hamba untuk Allah, sedangkan ridlo itu adalah respon kerelaan hamba atas sesuatu yang ditentukan oleh Allah. Jadi anda jika ingin belajar ikhlas, katakan kepada diri sendiri, “Jiwa saya hanya untukMu Allah”, setiap hari. Dan Allah Ta’ala juga mengajari dalam doa iftitah setiap sholat kita, bukan?

Namun, anda akan sulit melaksanakan itu manakala, anda tidak membuang halangan dan hambatan ikhlas itu sendiri. Para Ulama Sufi menegaskan, hambatan ikhlas itu ada tiga:
1. Melihat dan mengingat-ingat amal baik dan ibadahnya.
2. Meminta ganti rugi kepada Allah.
3. Puas terhadap amal ibadah yang telah di lakukan.

Tiga hal itu jika muncul dalam diri anda, pertanda anda tidak ikhlas. Karena jangan pernah melihat amal perbuatan yang sudah anda lakukan.

Lupakan saja kebaikan anda pada Allah maupun pada makhlukNya.
Begitu juga anda jangan minta ganti rugi atas amal ibadah anda, minta ganti rugi pahala, syurga dan keuntungan lainnya kepada Allah. Itu tandanya tidak ikhlas.

Anda juga, jangan puas, jangan bangga, jangan merasa sudah final. Buanglah semua itu, agar hati anda setiap hari selalu baru.

taken from: www.sufinews.com

Tips Istiqomah

  • Jangan merasa bisa istiqomah, karena usaha anda bisa istiqomah semata karena anugerah Allah yang turun.
  • Jangan beri ruang menunda aktivitas kebajikan, karena kebaikan yang sudah ada di depan mata, jika lewat, ia tidak bisa menempati waktu yang bakal tiba. Karena waktu yang bakal tiba itu milik kebaikan berikutnya yang sudah menunggu.
  • Jangan terbiasa menuruti rasa malas, menunggu mood, menunggu selesainya beban problema dunia.
  • Jangan memanjakan diri untuk berkhayal yang enak-enak di dunia ini.
  • Jangan menunggu khusyu’ untuk istiqomah;
  • Jangan membayangkan munculnya karomah dibalik istiqomah.
Selanjutnya juga:
  • Memulai istiqomah dari diri sendiri, jangan menunggu orang lain berbuat,
  • Harus ada keberanian melawan diri sendiri dan hambatan-hambatan Istiqomah;
  • Lawan rasa bosan dan jenuh dibalik istiqomah.
  • Istiqomah harus jadi milik anda, perkara yang sangat agung dan berharga.
Berangkatlah dengan nawaitu menuju Allah, bersama Allah, dan hanya bagi Allah.

Ingat pula:
  • Istiqomah itu lebih utama dibanding beribu karomah;
  • Istiqomah itu adalah hak kehambaan yang dituntut oleh Allah, sedangkan karomah adalah sesuatu yang dianugerahkan oleh Allah, jangan sekali-kali mencampuri urusan anugerahNya.
  • Istiqomah itu jalan lurus menuju Allah.
  • Istiqomah itu konsisten dan menjadi perilaku tokoh-tokoh besarnya Allah. Istiqomah itu awal doa kita, “Ihdinash-Shirothol Mustaqim, Ya Allah tunjukkanlah kami jalan Istiqomah.”
Taken From: www.sufinews.com

Kasih Sayang (2)

Segala sesuatu itu ada kuncinya. Kunci ilmu itu bertanya (jika tidak tahu). Jika anda bisa hendaklah bermajlis dengan kaum ‘arifin, yang bisa anda gali pengetahuan mereka dan hakikat rumusnya, kelembutan isyaratnya, maka sungguh anda meraih keuntungan. Karena yang paling mulia diantara para Ulama adalah Ulama Robbanyiyyun, yang sangat agung dibanding siapa pun di muka bumi selain Allah. Karena mereka ini adalah Kekasih-kekasih Allah dan pengemban amanah rahasiaNya.
Maka jagalah kehormatan mereka, gerakkan intuisi mereka dengan bertanya yang baik. Karena gejolak ombak dari intuisi kaum ‘arifin itu tidak akan pernah sirna keajaibannya. Maka cukuplah disebut tolol bagi seseorang yang tidak mau belajar pada mereka, meraih limpahan dari kemampuan mereka. Padahal Allah swt telah berfirman:
“Bertanyalah kepada ahli dzikir manakala kalian tidak tahu.”

Nabi saw, juga bersabda:
“Bermajlislah dengan orang-orang yang berjiwa besar dan bertanyalah kepada para Ulama dan bergaulah dengan para ahli hikmah (Ilahiyah).”

Kasih Sayang

Karena langit adalah jalan bagi turunnya Kasih Sayang Ilahi, dan tempat sumber limpahan-limpahan alam cinta dan kasih sayang, sekaligus tempat hunian para malaikat yang dijadikan sebagai perantara rahasia-rahasia antara DiriNya dan para makhlukNya.

  • Bila Allah melimpahkan rahmat dalam rahasia malaikat rizqi, maka Allah memberikan pertolongan kepada pencari rizqi.
  • Bila Allah melimpahkan rahmat kepada rahasia pencatat amal, maka Allah memberikan kelupaan hamba terhadap keburukan-keburukan.
  • Bila Allah melimpahkan pada rahasia malaikat Raqib, maka Allah memberikan pertolongan dan kasih sayang.
Kasih sayang adalah perilaku jiwa kaum ‘arifin dan sekaligus menjadi mi’raj qalbunya menuju Tuhannya. Sedangkan hamba-hamba Allah yang ‘Arifin tadi merupakan pantulan manifestasi Rahmat Tuhan semesta alam bagi para makhlukNya. Dan Dia adalah Maha Suci nan Maha Cinta dan Kasih.

adapted from: www.sufinews.com

Bersahabat (6)

Abu All ar-Ribathi - rahimahullah - berkata:
Aku pernah menemani Abdullah al-Marwazi - rahimahullah.

Sebelum aku berteman dengannya, la telah memasuki daerah gurun pasir tanpa membawa bekal apa pun. Ketika saya menemaninya la berkata kepadaku, “Mana yang lebih Anda sukai, Anda yang menjadi seorang pimpinan (amir) ataukah aku?”
Maka aku menjawabnya, “Anda-lah yang jadi pemimpin.”
Maka la berkata, “Jika demikian, maka Anda harus taat.” Aku pun menjawabnya, “Ya!”
Kemudian la mengambil keranjang (tas) dan mengisinya bekal kemudian ia panggul di punggungnya.
Ketika aku berkata padanya, “Berikan barang itu padaku biar aku yang membawanya.”

Persahabatan

Ibrahim bin Adham - rahimahullah - jika ia ditemani oleh seseorang, maka la mengajukan tiga syarat:

  1. Per­sahabatan adalah suatu pengabdian;
  2. Memberi tahu kepadanya; dan
  3. Tangannya dalam segala anugerah dunia yang dibukakan Allah kepadanya hendaknya seperti tangannya sendiri. Kemudian ada seseorang dari sahabatnya berkata, “Aku tidak sanggup melaku­kannya.” Maka Ibrahim bin Adham berkata kepada sahabatnya, “Saya kagum terhadap kejujuran Anda.” Dan Ibrahim bin Adham adalah seorang Sufi yang bekerja mengawasi kebun atau ikut me­manen hasil pertanian dan kemudian hasilnya la bagikan kepada para sahabatnya.

:) --> :D --> :$ --> :( --> :p --> ;) --> :k --> :@ --> :# --> :x --> :o --> :L --> :O --> :r --> :y --> :t --> :s --> :~ --> :v --> :f --> :d --> :c --> :z -->

Kumpulan Komentar